IKHTISAR SEJARAH MAJAPAHIT

Oleh: WacanaNusantara
11 April, 2011

Majapahit pada abad ke-14 merupakan kekuasaan besar di Asia Tenggara.  Peranannya menggantikan Kerajaan Mataram di Jawa dan Sriwijaya  di Sumatera, dua kekuatan besar di zamannya; yang pertama merupakan negara agraris, yang kedua negara maritim; kedua  ciri itu dimiliki Oleh Majapahit. Para penggagas kerajaan Majapahit memiliki keinginan  untuk membangun kerajaan yang meramu dua basis kekuatan, maritim dan agraris. Visi tersebut didukung dengan lokasi Ibukota Kerajaan Majapahit di daerah di hilir sungai (Brantas) yangstrategis dan dapat memudahkan pengawasan perdagangan pesisir yang sekaligus dapat mengendalikan produksi pertanian di pedalaman.  Selain itu, perluasan cakrawala mandala ke luar Pulau Jawa, yang meliputi daerah Seluruh Dwipantara, menjadi prioritas berikutnya.

Majapahit (Wilwatikta, Sansekerta) adalah satu dari beberapa kerajaan yang pernah ada di Nusantara  yang mempengaruhi jalannya sejarah serta peradaban di kawasan Asia Tenggara pada abad ke 14 M. Sejarah Kerajaan Majapahit merupakan rentetan kisah serta peristiwa yang berkesinambungan dari kerajaan-kerajaan pendahulunya di Tanah Jawa, Kadiri dan Singhasari.

Sejarah Nusantara telah mencatat peristiwa pengusiran utusan Kaisar Mongol (Bangsa Tartar) bernama Meng Khi yang datang ke tanah jawa membawa perintah Kaisar Kubilai Khan agar Krtanagara (penguasa Singhasari, raja yang memiliki pengaruh kuat di Tanah Jawa waktu itu), agar tunduk dalam pengaruh dan kekuasaan Mongol. Krtanagara dengan tegas menolaknya. Dibeberapa literatur dikatakan utusan tersebut dilkukai sebagai peringatan tegas penolakanraja Singasari tersebut. Krtanagara kemudian membangun armada militer untuk sebuah ekspedisi menggalang kekuatan di antara kerajaan-kerajaan di kawasan Asia Tenggara untuk menghalau pegaruh bangsa Mongol. Ekspedisi tersebut kemudian dikenal dengan nama ekspedisi “Pamalayu”.

Tersebutlah Jayakatwang (Jayakatong), seorang raja bawahan yang berkuasa di Kediri, melihat peristiwa tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan Singasari. Diilhami oleh peristiwa yang terjadi pada 1222 M, di mana leluhur Krtanagara, Ken Arok yang kemudian mendirikan Kerajaan Singasari, merebut kekuasaan dari Kediri. Jayakatwang melakukan pemberontakan terhadap Singasari, tepat setelah ekspedisi Pamalayu diberangkatkan oleh Krtanagara. Dengan memanfaatkan menurunnya jumlah kekuatan pasukan di Singasari, Jayakatwang melakukan penyerangan dari delapan penjuru mata angin seperti yang dikisahkan dalam Pararaton, hanya dalam waktu yang sangat singkat Singasari dapat dikuasai. Krtanagara sendiri gugur dalam peristiwa ini (1292).

Sementara itu dalam waktu yang hampir bersamaan, di tahun meninggalnya Krtanagara, di China, Kaisar Dinasti Yuan, Kaisar Shizu (Kubilai Khan) mengirimkan ekspedisi untuk membalas pengusiran utusannya yang terdahulu ke Tanah Jawa. Ekspedisi Dinasti Yuan yang dipimpin oleh Shi Bi (Shih pi), Gao Xing (Kau Hsing), dan Ike Mese ini sampai di Pulau Belitung pada 1293 M untuk menyiapkan rencana penyerangan terhadap Singasari dan mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa tepat saat keberangkatan ekspedisi mereka, situasi politik dan kekuasaan di Jawa sudah berubah sangat drastis.

RADEN WIJAYA PENDIRI KERAJAAN MAJAPAHIT

Terseret dalam arus konflik politik dan peperangan di antara perseteruan abadi dua wangsa, Raden Wijaya membuktikan kualitasnya sebagai seorang calon pemimpin. Alih-alih ikut terseret dalam perseteruan tersebut, Raden Wijaya lebih memilih mengunjungi Bupati Songeneb (Sumenep), Arya Wiraraja dan memintanya sebagai utusan pendamai kepada Jayakatwang. Belum ada alasan pasti mengapa kemudian Jayakatwang menganugerahi Raden Wijaya dengan Hutan Těrik, apakah Raden Wijaya sendiri, atau bahkan Arya Wiraraja yang mengusulkan hal tersebut.

Entah siapa yang memulai untuk berhubungan, pasukan Kubilai Khan yang dipimpin oleh Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xin yang mendarat di Tuban kemudian bersatu dengan pasukan Raden Wijaya. Mungkin Bagi pasukan Mongol, Raden Wijaya merupakan sekutu yang berguna, mengingat mereka penduduk asli sehingga dapat dipastikan mengenal medan dengan sangat baik. Sementara bagi Raden Wijaya, Ike Mese dan pasukan Mongolnya merupakan bantuan besar dalam menjalankan rencana besarnya, mengusir Jayakatwang dari Singasari.

Kronik Cina mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, pasukan Raden Wijaya balik menyerang pasukan bala tentara mongol yang telah berhasil menumpas Jayakatwang. Adalah Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang sempat membantu orang-orang Mongol  menjatuhkan Jayakatwang, melakukan penumpasan itu. Kekekalahan bala tentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kublai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang, melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memorak-morandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit Mongol di atasnya.

Raden Wijaya kemudian mendirikansebuah kerajaan baru yang dinamakan Wilwatikta (sinonim untuk Majapahit dalam bahasa Sansekerta). Nagarakretagama dan Pararaton sependapat bahwa Raden Wijaya menobatkan diri sebagai raja dari sebuah kerajaan baru bernama Majapahit pada tahun 1294 M. Ia dinobatkan dengan gelar Śri Kĕrtarājasa Jayawardhana.

PUNCAK PENCAPAIAN DAN KEBESARAN KEAJAAN MAJAPAHIT

a. Tribhuwanatunggadewi dan Sumpah Palapa
Tribhuwanatunggadewi adalah Penguasa ketiga Majapahit (1328-1351 M) menggantikan Jayanagara yang meninggal Tahun 1328 M. Ia dinobatkan dengan nama gelar abhiseka Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani, terdapat pada Prasasti Singasari (1351).Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya (Gayatri) sebagai makamangalya (memerintah dengan pengawasan) karena Gayatri telah menjadi bhiksuni. Karena itu pula, ketika Gayatri meninggal tahun 1350 M, pemerintahan Tribhuwana pun berakhir pula.

Nagarakretagama menyebutkan akhir pemerintahan Tribhuwana Adalah tahun 1350 M, bersamaan dengan meninggalnya Gayatri. Akan tetapi, Prasasti Singasar pada tahun 1351 M masih menyebutkan Tribhuwana sebagai raja Majapahit. Ia kemudian kembali menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga raja.

Kakawin Nagarakretagama, memaparkan bahwa dalam masa pemerintahan Tribhuwana, pada tahun 1331 M terjadi pemberontakan daerah Sadeng dan Keta, yang mengangkat peran Gajah Mada sebagai bagian dari kesejarahan Majapahit. Pemerintahan Tribhuwanatunggadewi juga terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit. Peristiwa Sumpah Palapa kemudian masuk ke dalam catatan sejarah Majapahit atas visi perluasan cakrawala kekuasaan pada  masa Pemerintahan Tribhuwanatunggadewi. Dalam Pararaton disebutkan bahwa Sumpah Palapa diucapkan Gajah Mada (dengan wewenang Tribhuwanatunggadewi) Saat dilantik sebagai rakryan patih, Patih Amangkubhumi Majapahit tahun 1334 M.

b. Hayam Wuruk , Perluasan Cakrawala Mandala
Pada 1350 M, putra mahkota Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja keempat Majapahit, bergelar Maharaja Sri Rajasanagara, juga dikenal dengan nama Bhra Hyang Wekasing Sukha. Hayam Wuruk merupakan kumaraja (raja muda) ketika ibunya, Tribhuwanatunggadewi, masih memerintah. Hayam Wuruk mendapat daerah kekuasaan sebagai sebagai daerah lungguh-nya (daerah kekuasaan).

c. Trowulan, Tatakota Majapahit
Berdasarkan hasil penelitian arkeologi di salah satu kompleks candi di Mojokerto, Trowulan, Jawa Timur, dapat diketahui bahwa tempat tersebut diduga pernah menjadi Ibukota kerajaan Majapahit. Sebaran situs seluas 9 x 11 km serta kelengkapan komponen- komponen tata kota yang lengkap dapat dijumpai. Saat ini, di Trowulan banyak temuan peninggalan Kerajaan. Kakawin Nagarakretagama merupakan sumber tertulis yang sangat penting untuk mengetahui gambaran kota Majapahit.

Masa-masa setelah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk diduga merupakan masa kemunduran kekuasaandan pengaruh Kerajaan Majapahit. Pertikaian keluarga yang berkelanjutan, perubahan politik dan perekonomian dunia internasional, secara tidak langsung memberi dampak yang mengakibatkan terjadinya kemunduran kerajaan ini, selain itu, melebarnya kekuasaan Kerajaan Islam Demak juga turut andil dalam melemahkan Kekuasaan Majapahit. kemunduran Majapahit sering di ibaratkan sebagai ”Sirna Ilang Kertaning Bhumi”  (Musnah Hilang Keagungan Negeri: 1400 Saka /1487 M). Tahun inilah yang dipercaya sebagai tahun awal “kemunduran”  Majapahit.