CANDI TIKUS

Oleh: WacanaNusantara
11 April, 2011

Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke 13. Dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit, sering dihubungkan dengan keterangan Prapanca (Negarakertagama), yang menyebutkan terdapat tempat mandi raja dan upacara-upacara tertentu yg dilaksanakan di kolam-kolamnya. Para peneliti mengaitkan keberadaan Candi Tikus dengan simbolisasi Mahameru dan sumber mata air suci, simbolisasi air yang keluar dari gunung, serta erat kaitannya dengan sistem kepercayaan masyarakat pada masanya.

Candi tikus dipugar secara resmi oleh Pemerintah Indonesia  pada tahun 1984-1989 Pemugaran oleh pihak pemerintah dilakukan secara partial dan dinyatakan purna pugar (selesai) pada tanggal 21 September 1989.

Candi ini diduga pernah mengalami pemugaran sebelumnya (kemungkinan pada masa pemerintahan Hindia Belanda). Bukti bahwa pernah dilakukan pemugaran sebelumnya, diantaranya adanya percobaan pemasangan kembali menara Candi induk dengan menggunakan semen serta pembuatan saluran pembuangan di sisi selatan yang mengarah ke barat dengan memanfaatkan gorong-gorong.

Candi Tikus merupakan bangunan yang berhubungan dengan air (petirtaan) dengan panjang 25,40 meter, lebar 23,60 meter dan tinggi 5,20 meter, berada pada kedalaman ± 2 meter dari permukaan tanah. Bangunan Candi Tikus tersusun dari batu bata sebagai bahan struktur utama Candi, dan batu andesit sebagai bahan utama untuk  jalawadra (Pancuran air).

Sampai saat ini, mengenai fungsi Candi Tikus, belum diketahui secara pasti. Akan tetapi , melihat dari bentuk serta susunan candi, bangunan ini diduga merupakan tempat bagi petirtaan (pemandian) yang yang berhias, belum dapat dipastian pula apakah dipakai untuk umum atau khusus.

Candi Tikus terdiri dari batur (kaki candi) dengan menara yang diperkirakan berbentuk miniatur candi serta terdapat kolam yang mengelilingi batur. Batur tersebut bertingkat dua, menempel pada dinding sisi selatan kolam. Pada masing-masing tingkat terdapat empat menara. Akan tetapi, pada saat ini menara yang masih terlihat utuh hanyalah menara tengah pada batur kedua sisi utara, sebagian menara hanya tinggal bagian kakinya saja Bahkan ada yang telah hilang sama sekali. Terdapat delapan menara yang seharusnya mengelilingi menara utama/puncak sebagai sentralnya (yang di duga merupakan Replika sebagai dari gunung Mahameru/meru.

Di sekeliling dinding batur terdapat jalawadra yang berbentuk makara dan kuncup teratai. Seperti halnya dinding batur, pada dinding kolam terdapat pula pula pancuran-pancuran namun, sebagian besar pancuran air pada dinding kolam tidak berhiaskan makara atau kuncup teratai,mungkin sudah hilang karena ada beberapa pancuran memiliki jalawadra.