Singhawikramawardhana

SINGHAWIKRAMAWARDHANA
(Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripatipasutabhupatiketubhuta)

Oleh: WacanaNusantara
11 April, 2011

Bhre Tumapel/Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa memerintah tahun 1388-1396 Saka (1466-1474 AD). Gelar resmi (abhisekanama) Paduka Sri Maharajadhiraja Prajakainatha Srimacchri Bhattara Prabhu Garbhottprasutinama Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawardhananamarajabhiseka. Suraprabhawa menggantikan Sang Sinagara. Prasasti Pamintihan (1395 Saka/1473 AD) menyebutkan gelar nobatnya, Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripatipasutabhupatiketubhuta.

Dyah Suraprabhawa adalah raja Majapahit yang memerintah tahun 1466-1474, bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta. Prasasti Waringinpitu (1369 Saka/1447 AD) menerangkan bahwa Dyah Suraprabhawa (putra bungsu Dyah Krtawijaya) menikahi Rajasawardhana-dewi Dyah Sripura (Bhre Singhapura). Pararaton mencatat istri (Bhre Pandan Salas) Bhre Singapura putri Bhre Paguhan (cucu Bhre Tumapel Sri Krtawijaya: memerintah tahun 1369-1373 Saka/1447-1451 AD). Bagian penutup Pararaton menuturkan: “… Bhre Pandan Salas menjadi Bhre Tumapel pada tahun 1388 Saka (1466 M). Menjadi raja dua tahun lamanya, lalu meninggalkan istana. Putra-putra Sang Sinagara: Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan si bungsu Bhre Kertabhumi. Menurut aluran, Bhre Prabhu yang mangkat di istana tahun 1400 adalah paman mereka…”..

Menurut analisa Slametmuljana tahta di sini bukan berarti tahta Majapahit melainkan tahta Tumapel, karena yang menjadi Raja Majapahit sepeninggal Hyang Purwawisesa adalah Dyah Suraprabhawa (1388-1408 Saka/1466-1486 AD). Sepeninggal Hyang Purwawisesa (1368 Saka/1466 AD) yang memegang tampuk pemerintahan Majapahit adalah Bhre Prabhu Sang Mokta ring Kadaton i saka sunya-nora-yuganing-wong (Bhre Prabhu yang moksa di istana tahun Saka 1400).

Sarjana A.Teeuw (Slametmuljana cf.,1986: 248) menganggap tokoh ini adalah Bhre Pandan Salas yang dalam Pararaton naik tahta tahun 1368 Saka/1466 AD. Dalam kaitan ini N.J.Krom ber-pendapat bahwa Pandan Salas berhubungan dengan akhir masa Majapahit yang ditandai munculnya dinasti baru dengan menyebut dirinya Girindrawardhana. Raja terakhir dinasti Majapahit akhir ini memakai gelar Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Namun J.Noorduyn menyangkal tentang adanya Dinasti Girindrawardhana, menurutnya Girindra adalah sebutan Dewa Siwa yang dipuja raja-raja Singhasari-Majapahit. Maka penyebutan Dyah Suraprabahwa sebagai keturunan Girindrawangsa di dalam Lubdhaka lebih merupakan pemujaan terhadap sang raja sebagai titisan Dewa Siwa, bukan atas dasar silsilah

Di dalam Prasasti Trailokyapuri (dikeluarkan oleh Dyah Ranawijaya) Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawardhana mangkat tahun 1396 Saka/1474 AD. Masa pemerintahannya berlangsung singkat Tokoh dibandingkan dengan tokoh-tokoh Majapahit lainnya, namun perlu dicatat bahwa dia- lah sebenarnyalah yang meneratas tapak jejak kembalinya Dinasti (Janggala-Kadiri). Mempertautkan Dinasti Singhasari kepada tatanan pemerintahan politik Negara Majapahit. Sejak pemerintahannya hingga runtuhnya Majapahit, gelar raja-rajanya mencantumkan ‘Girindrawardhana’. Oleh karena itu, meski mungkin tidak terlalu ‘populer’ akan tetapi kebesaran Sri Adi Suraprabhawa diabadikan dalam oleh Rakawi Mpu Tan Akung di dalam gubahan pujasastranya, Kakawin Lubdhaka atau Siwaratrikalpa Ia diseru dengan hormat sebagai tokoh Giripatipasutabhupatiketubhuta karena sesungguhnyalah di dalam dirinya mengalir darah murni ‘pribumi’ keturunan raja-raja gunung (Girindrawangsaja) yang telah berhasil mempersatukan keluarga Janggala-Kadiri-Majapahit.

Girindrawardhana yang menjadi raja Majapahit tahun 1486 mengaku sebagai putra Singawikramawardhana. Hal ini dapat diperkuat adanya unsur kata Giripati dalam gelar abhiseka Singawikramawardhana yang sama artinya dengan Girindra, yaitu Raja Gunung.

Jadi, pemerintahan Dyah Suraprabhawa Singawikramawardhana berakhir tahun 1474 dan digantikan oleh keponakannya, yaitu Bhre Kertabhumi putra Rajasawardhana, yang sebelumnya pergi meninggalkan istana bersama ketiga kakaknya. Meski tidak disebut dengan jelas dalam Pararaton, dapat dipastikan Bhre Kertabhumi melakukan kudeta terhadap Dyah Suraprabhawa karena ia sebagai putra Rajasawardhana, merasa lebih berhak atas takhta Majapahit dibanding pamannya itu.

Pararaton memang tidak menyebut dengan jelas kalau Bhre Kertabhumi adalah raja yang menggantikan Dyah Suraprabhawa. Justru dalam kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong, diketahui kalau Kung-ta-bu-mi adalah raja Majapahit yang memerintah sampai tahun 1478.

Namun teori bahwa Dyah Suraprabhawa digantikan oleh Bhre Kertabhumi ditentang Muljana (1986: 248). Merujuk kepada Pararaton, Muljana berpendapat bahwa sepeninggal Hyang Purwawisesa tahun 1466, yang menjadi raja di Majapahit adalah Bhre Prabhu Sang Mokta ring Kadaton i saka sunya-nora-yuganing-wong (1400). Pararaton tak menyebut gelar abhiseka maupun nama garbhopati raja tersebut, hanya menyebutkan tempat dan tahun kematiannya, yakni di istana dan tahun 1400 Saka (1476 M). Dari Prasasti Pemantihan-lah terbukti bahwa yang dimaksud dengan Sang Mokta ring Kedaton i saka sunya-nora-yuganing-wong ialah Dyah Suraprabhawa. Pararaton pun tak memberitakan dengan tegas siapa Majapahit setelah Dyah Suraprabhawa mangkat.

Krom menyatakan, pada akhir masa Majapahit timbul dinasti baru, Girindrawardhana, dan raja terakhir Majapahit Dyah Ranawijaya Girindrawardhana berasal dari dinasti ini. Namun Noorduyn menyangkal adanya Dinasti Girindrawardhana. Bagaimana pun, Girindra adalah sebutan untuk Dewa Siwa. Dewa Siwa ini dipuja pada masa Singasari-Majapahit. Ada pun penyebutan Dyah Suraprabahwa sebagai keturunan Girindrawangsa dalam Lubdhaka lebih merupakan pemujaan terhadap dirinya sebagai titisan Dewa Siwa, bukan atas dasar silsilah.

Terjemahan Kakawin Desawarnana (Nagarakretagama)

TERJEMAHAN KAKAWIN DESAWARNANA (NAGARAKRETAGAMA) bag 1

Karya Mpu Prapanca Oleh: Slamet Muljana

Pupuh 1

  1. Om! Sembah puji dari hamba yang hina ini ke bawah telapak kaki sang pelindung jagat. Siwa-Buddha-Jamna-Batara senantiasa tenang-tenggelam dalam samadi. Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja dunia. Dewa Batara, lebih khayal dari khayal, tapi tampak di atas tanah.
  2. Merata serta meresapi segala makhluk, nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagi Jambala. Wagindra dalam segala ilmu, Dewa Asmara di dalam cinta berahi. Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.
  3. Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah raja, kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Wilwatikta yang sedang memegang tampuk negara. Bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua. Tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan seluruh Nusantara.
  4. Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati. Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran. Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung Kelud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara.
  5. Itulah tanda bahwa Batara Gurunata menjelma bagai raja besar. Terbukti, selama bertakhta, seluruh tanah Jawa tunduk menadah perintah. Wipra, satria, waisya, sudra; keempat kasta sempurna dalam pengabdian. Durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh 2

  1. Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda. Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya. Selaku wikuni tua, tekun berlatih yoga menyembah Buddha. Tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budaloka.
  2. Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung. Kembali gembira bersembah bakti semenjak Sri Baginda mendaki takhta. Girang ibunda Tribhuwana Wijayatunggadewi mengemban takhta. Bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendraputra.

Pupuh 3

  1. Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni. Setia mengikuti ajaran Buddha, menyekar yang telah mangkat. Ayahanda Sri Baginda raja ialah Prabu Kertawardana. Keduanya teguh beriman Buddha demi perdamaian praja.
  2. Ayahnya Sri Baginda Raja bersemayam di Singasari. Bagai Ratnasambawa, menambah kesejahteraan bersama. Teguh-tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara. Mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh 4

  1. Putri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan. Bertakhta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna. Adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana. Rani Daha dan Rani Jiwana bagai bidadari kembar.
  2. Laki sang Rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker. Rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai sarjana. Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama. Sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh 5

  1. Adinda Baginda raja di Wilwatikta: putri jelita bersemayam di Lasem. Putri jelita Daha, cantik ternama. Indudewi putri Wijayarajasa.
  2. Dan lagi putri bungsu Kretawardana. Bertakhta di Pajang, cantik tidak bertara. Putri Sri Baginda Jiwana yang mashur. Terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh 6

  1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas Rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana, sangat bagus lagi putus dalam naya. Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
  2. Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan, dan perwira. Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami Rani Pajang. Mulia pernikahannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
  3. Bhre Lasem menurunkan putri jelita Nagarawardani. Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi. Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana. Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
  4. Putri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani, masih muda indah laksana lukisan. Para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.

Pupuh 7

  1. Melambung kidung merdu pujian Sang Prabu, beliau membunuh musuh-musuh. Bagai matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam kuasa. Girang janma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana bagai kumuda. Dari semua desa di wilayah negara, pajak mengalir bagai air.
  2. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi. Menghukum penjahat bagai Dewa Yama, menimbun harta bagaikan Waruna. Para telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu. Menjaga pura sebagai Dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan.
  3. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para putri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih. Namun sang permaisuri, keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik. Paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan Baginda.
  4. Berputralah beliau putri mahkota Kusumawardani, sangat cantik. Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan. Sang menantu Sri Wikramawardana memegang hakim perdata seluruh negara. Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh 8

  1. Tersebut keajaiban kota: tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda, terus menerus meronda menjaga paseban.
  2. Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur: panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, di selatan pecan, rumah berjejal jauh memanjang, sangat indah. Di selatan jalan perempat: balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.
  3. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah; bagian utara paseban pujangga dan menteri. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buhdha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan Palguna, demi keselamatan seluruh dunia.
  4. Di sebelah timur, pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil Siwa. Di selatan tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat, menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara tempat Buddha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
  5. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
  6. Di dalam, di selatan, ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua. Dibuat bertingkat-tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.

Pupuh 9

  1. Inilah para penghadap: pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang. Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama. Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jayagung. Dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan dan banyak lagi.
  2. Begini keindahan lapangan watangan luas bagaikan tak berbatas. Mahamantri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua. Di sebelah utara pintu istana di selatan, satria dan pujangga.
  3. Di bagian barat: beberapa balai memanjang sampai mercudesa. Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga. Di bagian selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa, dan balai. Tempat tinggal abdi Sri Narapati Paguhan, bertugas menghadap.
  4. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri. Rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias. Di sebelah timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan. Itulah balai tempat terima tetamu Sri Nata di Wilwatikta.

Pupuh 10

  1. Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana: Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring. Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanuruhan, rangga, tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
  2. Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan. Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh. Jika dating, berkumpul di kepatihan seluruh Negara. Lima menteri utama, yang mengawal urusan negara.
  3. Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap, berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana. Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya. Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh 11

  1. Itulah penghadap balai witana, tempat takhta, yang terhias serba bergas. Pantangan masuk ke dalam istana timur, agak jauh dari pintu pertama. Ke Istana Selatan, tempat Singawardana, permaisuri, putra dan putrinya. Ke Istana Utara, tempat Kretawardana. Ketiganya bagai kahyangan.
  2. Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni. Kakinya dari batu merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan. Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik perhatian. Bunga tanjung, kesara, campaka, dan lain-lainnya terpencar di halaman.

Pupuh 12

  1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja. Selatan Buddha-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka. Barat tempat para arya, menteri, dan sanak-kadang adiraja.
  2. Di timur tersekat lapangan, menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.
  3. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha, adinda Sri Paduka di Wengker. Batara Narpati, termashur sebagai tulang punggung praja. Cinta-taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
  4. Di timur laut, rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada. Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada negara. Fasih bicara, teguh tangkas, tenang, tegas, cerdik, lagi jujur. Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara.
  5. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buddha. Terlangkahi rumah para menteri, para arya, dan satria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
  6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama. Negara-negara di Nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.

Pupuh 13

  1. Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu: Jambi, Palembang, Toba, dan Darmasraya. Pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.
  2. Lawas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama negara-negara Melayu yang telah tunduk. Negara-negara di pulau Tanjungnegara: Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.

Pupuh 14

  1. Kadandangan, Landa Samadang, dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune(ng), Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
  2. Di Hujung Medini, Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu. Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah. Jerai, Kanjapiniran; semua sudah lama terhimpun.
  3. Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah. Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo. Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.
  4. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya. Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk. Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk.
  5. Tersebut pula pulau-pulau Makassar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar. Lagi pula Wanda(n), Ambon atau Pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh 15

  1. Inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan. Siam dengan Ayodyapura, begitu pun Darmanagari Marutma. Rajapura, begitu juga Singasagari Campa, Kamboja, dan Yawana ialah negara sahabat.
  2. Pulau Madura tidak dipandang negara asing. Karena sejak dahulu menjadi satu dengan Jawa. Konon, tahun Saka lautan menatang bumi, itu saat Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
  3. Semenjak Nusantara menadah perintah Sri Baginda, tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti. Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan. Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.

Pupuh 16

  1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di Nusantara. Dilarang mengabaikan urusan Negara, mengejar untung. Seyogyanya, jika mengemban perintah ke mana juga. Menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.
  2. Konon, kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata. Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata. Dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa. Karena penghuninya bukan penganut ajaran Buddha.
  3. Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali. Boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan. Bahkan menurut kabaran Mahamuni Empu Barada. Serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.
  4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja. Dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat melakukan persajian seperti perintah Sri Nata. Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.
  5. Semua negara yang tunduk setia menganut perintah. Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari Pulau Jawa. Tapi yang membangkang, melanggar perintah dibinasakan. Pimpinan angkatan laut, yang telah masyhur lagi berjasa.

Pupuh 17

  1. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah Nusantara. Di Sri Palatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia. Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang, dan lega. Wipra, pujangga, dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.
  2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama. Lepas dari segala duka mengenyam hidup penuh segala kenikmatan. Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Jenggala Kediri. Berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.
  3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Sri Paduka. Ribuan orang berkunjung, laksana bilangan tentara yang mengepung pura. Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan. Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.
  4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling. Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura. Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan. Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima.
  5. Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati. Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai. Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin. Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.
  6. Tahun Saka aksatisurya (1275), Sang Prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring. Tahun Saka angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra. Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279), ke laut selatan menembus hutan. Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu, dan Sideman.
  7. Tahun Saka seekor-naga-menelan-bulan (1281) di Badrapada bulan tambah. Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang. Naik kereta diiring semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi. Menteri, tanda, pendeta, pujangga; semua para pembesar ikut serta.
  8. Juga yang menyamar, Empu Prapanca, girang turut mengiring paduka Maharaja. Tak tersangkal girang sang kawi, putra pujangga, juga pencinta kakawin. Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar kebuddhaan mengganti sang ayah. Semua pendeta Buddha umerak (ramai) membicarakan tingkah lakunya dulu.
  9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja berkata, berdamping, tak lain. Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga. Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah, dan menggubah. Karya kakawin, begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
  10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah. Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci. Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan. Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan. Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.
  11. Habis berkunjung pada candi makam (pasareyan) Pancasara, menginap di Kapulungan. Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai. Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya. Tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu.

Pupuh 18

  1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak. Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit. Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki. Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
  2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya. Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap mentri lain lambangnya. Rakryan sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan. Keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.
  3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari. Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih. Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma mas mengkilat. Kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.
  4. Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja. Beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah. Semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi. Ringkasnya para wanita berkereta merah berjalan paling muka.
  5. Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang. Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap. Rapat rampak prajurit pengiring Jenggala Kediri, Panglarang, Sedah. Bhayangkari gemuruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda.
  6. Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur, Sri Nata ingin rehat. Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi akrab. Larut matahari berangkat lagi, tepat waktu Sri Paduka lalu. Ke arah timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.
  7. Dukuh sepi kebuddhaan dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang. Berbeda-beda namanya Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung. Tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya. Puas sang dharmadhyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.
  8. Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem, perjalanan Sri Baginda. Hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam. Baginda memberikan perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah. Sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat.

Pupuh 19

  1. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam. Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, menuju Lampes Times. Serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan pasir lemak-lembut. Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
  2. Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah. Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi. Di situlah Sri Baginda menempati pasanggrahan yang tehias sangat bergas. Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi bakti.

Pupuh 20

  1. Sampai di desa Kasogatan, Baginda dijamu makan minum. Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, We Petang. Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.
  2. Begitu pula desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul. Termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan. Itulah empat belas desa kasogatan yang berakuwu. Sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.Nagarakretagama ditulis dalam bentuk kakawin sebagai pujasastra bagi Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara, berbeda dengan Pararaton yang ditulis secara prosa. Nagarakretagama-lah, salah satunya, nama Sri Rajasanagara alias Hayam Wuruk (yang hanya disebutkan dengan gelarnya) begitu diagung-agungkan, yang menyebabkan namanya terkenal hingga kini. Dibandingkan dengan kakawin-kakawin lainnya, baik yang sejaman atau-pun sebelumnya, nampak nyata betapa berbedanya isi, gaya dan cara yang di tuangkan Mpu Prapanca dalam kakawinnya. Kakawin Desawarnanna atau Nagarakrtagama adalah rekaman yang benar-benar saksi mata atas pengalaman langsung yang ditulis pada masanya. Penulisnya, Mpu Prapanca, hidup pada masa pemerintahan Hayam Wuruk sehingga dapat dipastikan ia tahu benar tentang keadaan sosial-ekonomi-politik-budaya Majapahit masa itu. Mpu Prapanca sering ikut dalam rombongan arak-arakan Raja Wilwatikta (Majapahit) selama mengadakan perjalanan ke berbagai tempat.

Pupuh 21

  1. Fajar menyingsing; berangkat lagi Sri Paduka melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran. Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.
  2. Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan. Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang. Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan.

Pupuh 22

  1. Di Dampar dan Patunjungan Sri Baginda bercengkerama menyisir tepi lautan. Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintasi kereta. Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga. Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.
  2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan. Danau ditinggalkan, menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan. Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala. Seperti juga Patunjungan, akibat perang belum kembali ke asrama.
  3. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan. Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut. Menyeberangi Sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut. Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.
  4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam. Malam berganti malam, Sri Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan. Sepeninggalnya, beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai. Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hujan.
  5. Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan. Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet. Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Baginda. Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya.

Pupuh 23

  1. Melalui Doni Bontong. Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang. Terlintas Jati Gumelar, Silabango. Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.
  2. Lalu berangkat lagi ke Pakembangan. Di situ bermalam; segera berangkat. Sampailah beliau ke ujung lurah Daya. Yang segera dituruni sampai jurang.
  3. Dari pantai ke utara sepanjang jalan. Sangat sempit sukar amat dijalani. Lumutnya licin akibat kena hujan. Banyak kereta rusak sebab berlanggar.

Pupuh 24

  1. Terlalu lancar lari kereta melintas Palayangan. Dan Bangkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat. Lainnya bergegas berebucalan menuju Surabasa.
  2. Terpalang matahari terbenam, berhenti di padang lalang. Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan. Perjalanan membelok ke utara melintas Turayan. Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh 25

  1. Panjang lamun dikisahkan kelakuan para mentri dan abdi. Beramai-ramai Baginda telah sampai di desa Patukangan. Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep Sebelah utara pakuwuan pesanggrahan Sri Baginda Nata.
  2. Semua menteri mancanagara hadir di pakuwuan. Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap. Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama. Panji Siwa dan Panji Buddha faham hukum dan putus sastera.

Pupuh 26

  1. Sang adipati Suradikara memimpin upacara sambutan. Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan. Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan.
  2. Untuk pemandangan ada rumah dari ujung memanjang ke lautan. Aneka bentuknya, rakit halamannya, dari jauh bagai pulau. Jalannya jembatan goyah, kelihatan bergoyang ditempuh ombak. Itulah buatan sang arya bagai persiapan menyambut raja.

Pupuh 27

  1. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari. Baginda mendekati permaisuri seperti dewa-dewi. Para putri laksana apsari turun dari kahyangan. Hilangnya keganjilan berganti pandang penuh heran cengang.
  2. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan. Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk. Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum. Sungguh beliau dewa menjelma sedang mengedari dunia.

Pupuh 28

  1. Selama kunjungan di desa Patukangan, para menteri dari Bali dan Madura. Dari Balumbung, kepercayaan Sri Paduka, menteri seluruh Jawa Timur berkumpul.
  2. Persembahan bulu bekti bertumpah-limpah. Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing. Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun. Para penonton tercengang-cengang memandang.
  3. Tersebut keesokan hari pagi-pagi. Sri Paduka keluar di tengah-tengah rakyat. Diiringi para kawi serta pujangga. Menabur harta membuat gembira rakyat.

Pupuh 29

  1. Hanya pujangga yang menyamar Empu Prapanca sedih tanpa upama. Berkabung kehilangan kawan kawi-Buddha Panji Kertayasa. Teman bersuka-ria, teman karib dalam upacara gama. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.
  2. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat. Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.
  3. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke desa Keta. Melewati Tal Tunggal, Halalang panjang. Pacaran dan Bungatan. Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu beralam. Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Pupuh 30

  1. Tersebut perjalanan Sri Baginda ke arah barat. Segera sampai Keta dan tinggal di sana lima hari. Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang. Tidak lupa menghirup kesenangan lain hingga puas.
  2. Atas perintah sang arya semua menteri menghadap. Wiraprana bagai kepala upapati Siwa-Buddha. Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang. Membawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Pupuh 31

  1. Keta telah ditinggalkan. Jumlah pengiring malah bertambah. Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora. Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gebang, Krebilan. Sampai di Kalayu, Baginda berhenti ingin menyekar.
  2. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan. Tempat candi pasareyan (makam) sanak kadang Sri Baginda Raja. Penyekaran di pasareyan dilakukan dengan sangat hormat. “Memegat sigi” nama upacara penyekaran itu.
  3. Upacara berlangsung menepati segenap aturan. Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama. Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban. Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.
  4. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan. Mengunjungi desa-desa di sekitarnya genap lengkap. Beberapa malam lamanya berlumba dalam kesukaan. Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.
  5. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan. Melalui Kebon Agung, sampai Kambangrawi bermalam. Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala. Candinya Buddha menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.
  6. Perjamuan Tumenggung Empu Nala jauh dari cela. Tidak diuraikan betapa lahap Sri Baginda bersantap. Paginya berangkat lagi ke Halses, Berurang, Patunjungan. Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub, dan Lesan.

Pupuh 32

  1. Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, di sana bermalam empat hari. Di tanah lapang sebelah selatan candi Buddha beliau memasang tenda. Dipimpin Arya Sujanottama para mantri dan pendeta datang menghadap. Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.
  2. Berangkat dari situ Sri Paduka menuju asrama di rimba Sagara. Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh. Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama Sagara. Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.
  3. Sang pujangga Prapanca yang memang senang bermenung, tidak selalu menghadap. Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka. Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta. Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.
  4. Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat. Suka cita Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cinta. Di atas tiap atap terpahat ucapan seloka yang disertai nama Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samar-samar, menggirangkan.
  5. Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi. Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkungi selokan. Andung, karawira, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya. Kelapa gading kuning rendah menguntai di sudut mengharu rindu pandangan.
  6. Tiada sampailah kata meraih keindahan asrama yang gaib dan ajaib. Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib. Semua para pertapa, wanita dan pria, tua muda, nampaknya bijak. Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Pupuh 33

  1. Habis berkeliling asrama, Sri Paduka lalu dijamu. Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap resap. Segala santapan yang tersedia dalam pertapan. Sri Paduka membalas harta. membuat mereka gembira.
  2. Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan. Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan. Akhirnya cengkerma ke taman penuh dengan kesukaan. Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.
  3. Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat. Pandang sayang yang ditinggal mengikuti langkah yang pergi. Bahkan yang masih remaja putri sengaja merenung. Batinnya: Dewa Asmara turun untuk datang menggoda.

Pupuh 34

  1. Sri Baginda berangkat, asrama tinggal berkabung. Bambu menutup mata, sedih melepas selubung. Sirih menangis merintih, ayam roga menjerit. Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.
  2. Kereta lari cepat, karena jalan menurun. Melintasi rumah dan sawah di tepi jalan. Segera sampai Arya, menginap satu malam. Paginya ke utara menuju desa Ganding.
  3. Para mentri mancanegara dikepalai Singadikara, serta pendeta Siwa-Buddha. Membawa santapan sedap dengan upacara. Gembira dibalas Sri Paduka dengan mas dan kain.
  4. Agak lama berhenti seraya istirahat. Mengunjungi para penduduk segenap desa. Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.

Pupuh 35

  1. Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan. Menganut jalan raya kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang. Ke Kedung Peluk dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Sri Baginda menuju kota Singasari bermalam di balai kota.
  2. Prapanca tinggal di sebelah barat Pasuruan, ingin terus melancong. Menuju asrama. Indarbaru yang letaknya di daerah desa Hujung. Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama. Lempengan piagam (Serat Kekancingan) pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.
  3. Isi piagam: tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara. Begitu pula sebagian Markaman, ladang Balunghura, sawah Hujung. Isi piagam membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura. Bila telah habis kerja di pura, ingin ia menyingkir ke Indarbaru.
  4. Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama. Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari. Habis menyekar di candi makam, Sri Baginda mengumbar nafsu kesukaan. Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan, dan Bureng.

Pupuh 36

  1. Pada subakala Sri Paduka berangkat ke selatan menuju Kagenengan. Akan berbakti kepada pasareyan batara bersama segala pengiringnya. Harta, perlengkapan, makanan. dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera, disambut sorak-sorai dari penonton.
  2. Habis penyekaran, Narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa-Buddha dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa rahap Sri Paduka bersantap sehingga puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Pupuh 37

  1. Tersebut keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara. Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar. Di dalam terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.
  2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah. Seperti Gunung Meru dengan arca Batara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putra disembah bagai dewa batara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.
  3. Sebelah selatan candi pasareyan ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya yang masih berdiri, berciri kasogatan. Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.
  4. Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpencar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Di luar gapura pabaktan luhur, tapi telah longsor tanahnya. Halamannya luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.
  5. Laksana wanita sakit merana lukisannya lesu-pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu. Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.
  6. Sedih mata yang memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau mashur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagad. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan batara.
  7. Tersebut lagi, paginya Sri Baginda berkunjung ke Candi Kidal. Sesudah menyembah batara, larut hari berangkat ke Jajago. Habis menghadap arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng.

Pupuh 38

  1. Keindahan Bureng: telaga bergumpal airnya jernih. Kebiru-biruan, di tengahnya: candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.
  2. Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati. Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi. Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.
  3. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa. Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan. Sang pujangga singgah di rumah pendeta Buddha, sarjana. Pengawas candi dan silsilah raja, pantas dikunjungi.
  4. Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan. Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan mashur. Meski sempurna dalam karya, jauh dari tingkah tekebur. Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru keinsafannya.
  5. Tamu diterima dengan girang dan ditegur: “Wahai orang bahagia, pujangga besar pengiring raja. Pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih. Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?”
  6. Maksud kedatangannya: ingin tahu sejarah leluhur. Para raja yang dicandikan, masih selalu dihadap. Ceritakanlah mulai dengan Batara Kagenengan. Ceritakan sejarahnya jadi putra Girinata.

Pupuh 39

  1. Paduka Empuku menjawab: “Rakawi maksud paduka sungguh merayu hati. Sungguh paduka pujangga lepas budi. Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup.
  2. Izinkan saya akan segera mulai. Cita disucikan dengan air sendang tujuh”.Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur.
  3. Semoga rakawi bersifat pengampun. Di antara kata mungkin terselib salah. Harap percaya kepada orang tua. Kurang atau lebih janganlah dicela.

Pupuh 40

  1. Pada tahun Saka lautan dasa bulan (1104) ada raja perwira yuda Putra Girinata, konon kabarnya lahir di dunia tanpa ibu. Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti. Sri Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
  2. Daerah luas sebelah timur Gunung Kawi terkenal subur makmur. Di situlah tempat putra Sang Girinata menunaikan darmanya. Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan Negara. Ibukota negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.
  3. Tahun Saka lautan dadu Siwa (1144), beliau melawan raja Kediri Sang Adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa. Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara kecil. Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.
  4. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan. Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah. Bersatu Jenggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti. Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah Pulau Jawa.
  5. Makin bertambah besar kuasa dan megah putra sang Girinata. Terjamin keselatamatan Pulau Jawa selama menyembah kakinya. Tahun Saka muka lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwapada. Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buddha.

Girindrawardhana

GIRINDRAWARDHANA
(Dyah Ranawijaya)

Oleh: WacanaNusantara
11 April, 2011

Brawijaya adalah nama raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah, babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Nama ini sangat populer dalam masyarakat Jawa namun belum memiliki bukti sejarah lainnya semisalnya prasasti.

Prabhu Natha Girindrawardhana Dyah Ranawijaya adalah raja Kerajaan Majapahit yang memerintah sekitar tahun 1486 Masehi. Tidak diketahui dengan pasti kapan ia naik takhta dan kapan pemerintahannya berakhir. Pendapat umum menyebutkan, ia sering dianggap sebagai raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527 Masehi.

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya diperkirakan sebagai putra Suraprabhawa Sang Singhawikramawardhana, raja Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1466-1474 Masehi. Dugaan tersebut berdasarkan atas gelar abhiseka yang dipakai oleh Ranawijaya dan Suraprabhawa yang masing-masing mengandung kata Girindra dan Giripati. Kedua kata tersebut memiliki makna yang sama, yaitu “raja gunung”.

Identifikasi dengan Brawijaya

Brawijaya adalah nama raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Nama ini sangat populer dalam masyarakat Jawa namun tidak memiliki bukti sejarah yang kuat, misalnya prasasti. Oleh karena itu perlu diselidiki dari mana asalnya para pengarang babad dan serat memperoleh nama tersebut. Nama Brawijaya diyakini berasal dari kata Bhra Wijaya, yang merupakan singkatan dari Bhatara Wijaya.

Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Masehi ada seorang raja bernama Batara Vigiaya yang bertakhta di Dayo, namun pemerintahannya dikendalikan oleh Pate Amdura. Batara Vigiaya merupakan ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya, sedangkan Dayo bermakna Daha. Dari prasasti Jiyu diketahui bahwa Daha diperintah oleh Dyah Ranawijaya pada tahun 1486 Masehi. Dengan kata lain, Brawijaya alias Bhatara Wijaya adalah nama lain dari Dyah Ranawijaya.

Identifikasi Brawijaya raja terakhir Majapahit dengan Ranawijaya cukup masuk akal, karena Ranawijaya juga diduga sebagai raja Majapahit. Kerajaan Dayo adalah ejaan Portugis untuk Daha, yang saat itu menjadi ibu kota Majapahit. Menurut Babad Sengkala pada tahun 1527 MasehiDaha akhirnya dikalahkan oleh Kesultanan Demak.

Ingatan masyarakat Jawa tentang kekalahan Majapahit yang berpusat di Daha tahun 1527Masehi bercampur dengan peristiwa runtuhnya Majapahit yang berpusat di Mojokerto tahun 1478 Masehi. Akibatnya, Bhra Wijaya yang merupakan raja terakhir tahun 1527 Masehi oleh para penulis babad “ditempatkan” sebagai Brawijaya yang pemerintahannya berakhir tahun 1478 Masehi. Akibatnya pula, tokoh Brawijaya pun sering disamakan dengan Bhre Kertabhumi, yaitu raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1474-1478 M. Padahal, tidak ada bukti sejarah yang menyebut bahwa Bhre Kertabhumi juga bergelar Brawijaya.

Girindrawardhana menurut Kronik Cina

Pemerintahan Bhre Kertabhumi tidak meninggalkan bukti prasasti, juga tidak diceritakan secara tegas dalam Pararaton. Justru dalam kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong ditemukan adanya raja Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi. Pada tahun 1478 Masehi Kung-ta-bu-mi dikalahkan putranya sendiri bernama Jin Bun, yang lahir dari selir Cina. Jin Bun ini identik dengan Panembahan Jimbun alias Raden Patah pendiri Kesultanan Demak. Setelah itu, Majapahit menjadi bawahan Demak. Jin Bun mengangkat seorang Cina muslim sebagai bupati bernama Nyoo Lay Wa.

Pada tahun 1486 Masehi Nyoo Lay Wa mati akibat unjuk rasa kaum pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat bupati baru di Majapahit, seorang pribumi bernama Pa-bu-ta-la yang juga menantu Kung-ta-bu-mi. Tokoh Pa-bu-ta-la ini identik dengan Prabhu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya yang mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486 Masehi. Tidak diketahui dengan pasti dari mana sumber sejarah yang digunakan oleh penulis kronik Cina tersebut.

Menurut kronik Cina di atas, Ranawijaya adalah menantu Bhre Kertabhumi yang diangkat oleh Raden Patah sebagai raja bawahan Demak. Pendapat lain mengatakan, Ranawijaya menjadi raja Majapahit atas usahanya sendiri, yaitu dengan cara mengalahkan Bhre Kertabhumi tahun 1478 Masehi, demi membalas kekalahan ayahnya, yaitu Suraprabhawa. Pendapat ini diperkuat oleh prasasti Petak yang menyebutkan kalau keluarga Girindrawardhana pernah berperang melawan Majapahit.

Peristiwa Ranggalawe

PERISTIWA ‘PEMBERONTAKAN’ RANGGALAWE

Oleh: WacanaNusantara
11 April, 2011

Ranggalawe adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal sebagai “pemberontak” pertama dalam sejarah kerajaan ini. Nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban, Jawa Timur, sampai saat ini.

Pada tahun 1292 Masehi, Ranggalawe diminta untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Tarik (di sebelah barat Tarik, Sidoarjo sekarang) menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit. Konon, nama Ranggalawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya. Lawe merupakan sinonim dari wenang, yang berarti “benang”, atau dapat juga bermakna “kekuasaan”. Maksudnya ialah, Ranggalawe diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut.

Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanya dalam perjuangan Rangga Lawe diangkat sebagai bupati Tuban yang merupakan pelabuhan utama di Jawa bagian timur saat itu Pararaton mengisahkan Rangga Lawe memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Kisah yang lebih panjang terdapat dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Rangga Lawe. Ketidak puasan dengan kedudukan yang diperoleh serta nuansa lingkup intrik politik dalam istana, telah menjadikan peristiwa Rangga Lawe ini menjadi sumber timbulnya pemberontakan dalam dua dasawarsa yang pertama dari sejarah kerajaan yang baru tersebut.

Pararaton menyebut pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1295 Masehi, namun dikisahkan sesudah kematian Raden Wijaya. Menurut naskah ini, pemberontakan tersebut bersamaan dengan Jayanagara naik takhta. Sedangkan menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya meninggal dunia dan digantikan kedudukannya oleh Jayanagara terjadi pada tahun 1309 Masehi. Akibatnya, sebagian sejarawan berpendapat bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1309 Masehi, bukan 1295 Masehi. Seolah-olah pengarang Pararaton melakukan kesalahan dalam penyebutan angka tahun. Nagarakretagama juga mengisahkan bahwa pada 1295 Masehi Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di istana Daha. Selain itu Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan Jayanagara. Sementara itu, Nagarakretagama sama sekali tidak membahas pemberontakan Ranggalawe. Hal ini dapat dimaklumi karena naskah ini merupakan sastra pujian sehingga penulisnya, Mpu Prapanca, merasa tidak perlu menceritakan pemberontakan seorang pahlawan yang dianggapnya sebagai aib.

Diceritakan dalam Kidung Ranggalawe, suatu hari Ranggalawe menghadap Raden Wijaya di ibukota dan langsung menuntut agar kedudukan Nambi digantikan Sora. Namun Sora sama sekali tidak menyetujui hal itu dan tetap mendukung Nambi sebagai patih. Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe membuat kekacauan di halaman istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe, yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada raja. Namun Ranggalawe memilih pulang ke Tuban. Oleh Mahapati yang licik, Nambi diberitahu bahwa Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan di Tuban. Maka atas izin raja, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit didampingi Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.

” Sementara itu tentara Majapahit telah dipersiapkan untuk bergerak ke Tuban. Para simpatisan Rangga Lawe yang bergerak ke Tuban, menyeberangi Sungai Tambak Beras. Banyak di antara mereka yang hanyut dibawa arus air; yang tersusul oleh tentara Majapahit, Rangga Lawe sendiri terlibat dalam peperangan melawan tentara Nambi. Rangga Lawe berhasil menusuk kuda Nambi namun Nambi lepas dari tikaman, cepat-cepat lari ke arah Sungai Tambak Beras bergabung dengan pasukan Majapahit. ”

-Kidung Ranggalawe

Pasukan Majapahit kemudian mengepung tentara Tuban dari tiga jurusan, dari timur barat dan utara. Masing-masing pasukan di bawah pimpinan Mahisa Anabrang, Gagak Sarkara dan Mayang Sekar. Pasukan yang menyerang dari jurusan timur, di bawah pimpinan Mahisa Anabrang, segera terlibat dalam pertempuran. Mahisa Anabrang kehilangan kudanya, tentara Majapahit dipukul mundur. Mahisa Anabrang yang berhasil melepaskan diri dari maut, menghadang Rangga Lawe di tepi Sungai Tambak Beras bersama kuda barunya merendam di dalam air, untuk menyegarkan kembali badannya. Mendadak Ranggalawe, yang mengendarai Nila Ambara, menyambarnya. Kuda Nila Ambara kena tusuk tombak. Rangga Lawe jatuh ke dalam air, namun berhasil memanjat karang padas. Mahisa Anabrang menariknya kembali ke dalam air. Terjadilah Pergumulan antara Mahisa Anabrang dan Rangga Lawe di dalam air. Dalam perkelahian sengit itu, Mahisa Anabrang berhasil mengepit leher Ranggalawe, Rangga Lawe terengah-engah kehabisan tenaga. Dengan mudah Kebo Anabrang mengepitnya lagi di bawah ketiak.

Lembu Sora yang menyaksikan pergumulan itu dari dekat, menabuh belas kasihan kepada Ranggalawe. Ia turun ke dalam air untuk menusuk Anabrang dari belakang. Rangga Lawe lepas dari kepitan, namun telah lemas. Rangga Lawe dan Anabrang mati bersama-sama dalam Sungai Tambak Bera.Pembunuhan terhadap rekan sekubu inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Lembu Sora pada tahun 1300 Maseh.

Perang Paregreg

PERANG PAREGREG

Oleh: WacanaNusantara
11 April, 2011

Sejarah setidaknya telah mencatat bahwa
peristiwa yang pada gilirannya melemahkan Majapahit
adalah perang saudara yang dikenal dengan ‘Perang Paregreg’.
Sejak kekuatan Bhre Wirabhumi dihancurkan Wikramawardhana
dalam Perang Paregreg, daerah Wirabhumi
seperti “terlepas” dari kontrol Majapahit.

Perang Paregreg merupakan peperangan yang terjadi antara Majapahit istana barat yang dipimpin Wikramawardhana, melawan istana timur yang dipimpin BhreWirabhumi. Perang ini terjadi pada 1404-1406 AD dan diduga menjadi penyebab utama kemunduran Majapahit.

Pada 1316 AD Jayanagara putra Raden Wijaya menumpas pemberontakan Nambi di Lumajang. Setelah peristiwa tersebut, wilayah timur kembali bersatu dengan wilayah barat. Menurut Pararaton, pada 1376 AD muncul sebuah gunungbaru. Peristiwa ini dapat ditafsirkan sebagai munculnya kerajaan baru, karena menurut kronik Cina dari Dinasti Ming, pada 1377 AD di Jawa ada dua kerajaan merdeka yang sama-sama mengirim duta ke Cina. Kerajaan Barat dipimpin Wu-lao-po-wu, dan Kerajaan Timur dipimpin Wu-lao-wang-chieh. Wu-lao-po-wu adalah ejaan Cina untuk Bhre Prabu, nama lain Hayam Wuruk (menurut Pararaton), sedangkan Wu-lao-wang-chieh adalah Bhre Wengker alias Wijayarajasa, suami Rajadewi.

Wijayarajasa rupanya berambisi menjadi raja. Sepeninggal Gajah Mada, Tribhuwana Tunggadewi, dan Rajadewi, ia membangun istana timur di Pamotan, sehingga dalam Pararaton, ia juga bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan.

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Wijayarajasa, hubungan antara Majapahit istana barat dan timur belum menegang, mengingat Wijayarajasa adalah mertua Hayam Wuruk. Wijayarajasa meninggal pada 1398 AD. Ia digantikan anak angkat sekaligus suami cucunya, yaitu Bhre Wirabhumi, sebagai raja istana timur. Sementara itu, Hayam Wuruk meninggal pada 1389. Ia digantikan keponakan sekaligus menantunya, yaitu Wikramawardhana.

Ketika Indudewi meninggal dunia, jabatan Bhre Lasem diserahkan pada putrinya, yaitu Nagarawardhani. Tapi Wikramawardhana juga mengangkat Kusumawardhani sebagai Bhre Lasem. Itulah sebabnya, dalam Pararaton terdapat dua orang Bhre Lasem, yaitu Bhre Lasem Sang Alemu istri Bhre Wirabhumi, dan Bhre Lasem Sang Ahayu istri Wikramawardhana. Sengketa jabatan Bhre Lasem ini menciptakan perang dingin antara istana barat dan timur, sampai akhirnya Nagarawardhani dan Kusumawardhani sama-sama meninggal pada 1400 AD. Wikramawardhana segera mengangkat menantunya sebagai bhre Lasem yang baru, yaitu istri Bhre Tumapel.

Perang Paregreg diawali dengan pemberontakan Bhre Wirabumi atau Urubisma, Adipati Blambangan, yang masih putra Prabu Brawijaya dari selir. Pemberontakan Urubisma ini melahirkan legenda Damarwulan yang sangat terkenal sebagai salah satu lakon kethoprak yang populer. Urubisma tidak berhasil menegakkan panji kerajaan di kadipatennya, namun setelah itu meletuslah pemberontakan oleh adipati yang lain. Karena tentara dan dana kerajaan banyak tersedot untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan, akhirnya raja-raja di luar Jawa dengan mudah lalu memisahkan dari ketergantungan terhadap Majapahit. Terjadilah disintegrasi di Jawa.

” Setelah pengangkatan Bhre Lasem baru, perang dingin antara istana barat dengan timur berubah menjadi perselisihan. Menurut Pararaton, Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana bertengkar pada 1401 AD dan kemudian tidak saling bertegur sapa. Perselisihan antara kedua raja meletus menjadi Perang Paregreg pada 1404 AD. Paregreg artinya “perang setahap demi setahap dalam tempo lambat”. Pihak yang menang pun silih berganti. Kadang pertempuran dimenangkan pihak timur, kadang pihak barat.”

Akhirnya, pada 1406 AD pasukan barat dipimpin Bhre Tumapel putra Wikramawardhana menyerbu pusat kerajaan timur. Bhre Wirabhumi menderita kekalahan dan melarikan diri menggunakan perahu pada malam hari. Ia dikejar dan dibunuh oleh Raden Gajah alias Bhra Narapati yang menjabat sebagai ratu angabhaya istana barat. Raden Gajah membawa kepala Bhre Wirabhumi ke istana barat. Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung bernama Girisa Pura.

Setelah kekalahan Bhre Wirabhumi, kerajaan timur kembali bersatu dengan kerajaan barat. Akan tetapi, daerah-daerah bawahan di luar Jawa banyak yang lepas tanpa bisa dicegah. Misalnya, tahun 1405 AD daerah Kalimantan Barat direbut Kerajaan Cina. Lalu disusul lepasnya Palembang, Melayu, dan Malaka yang tumbuh sebagai bandar-bandar perdagangan ramai, yang merdeka dari Majapahit. Kemudian lepas pula daerah Brunei yang terletak di Kalimantan sebelah utara.

Selain itu Wikramawardhana juga berhutang ganti rugi pada Dinasti Ming penguasa Cina. Sebagaimana disebutkan di atas, pihak Cina mengetahui kalau di Jawa ada dua buah kerajaan, barat dan timur. Laksamana Cheng Ho dikirim sebagai duta besar mengunjungi kedua istana. Pada saat kematian Bhre Wirabhumi, rombongan Cheng Ho sedang berada di istana timur. Sebanyak 170 orang Cina ikut menjadi korban. Atas kecelakaan itu, Wikramawardhana didenda ganti rugi 60.000 tahil. Sampai 1408 AD ia baru bisa mengangsur 10.000 tahil saja. Akhirnya, Kaisar Yung Lo membebaskan denda tersebut. Peristiwa ini dicatat Ma Huan (sekretaris Cheng Ho) dalam bukunya, Ying-ya-sheng-lan.

Setelah Perang Paregreg, Wikramawardhana memboyong Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi sebagai selir. Dari perkawinan itu lahir Suhita yang naik takhta tahun 1427 AD menggantikan Wikramawardhana. Pada pemerintahan Suhita inilah, dilakukan balas dendam dengan cara menghukum mati Raden Gajah pada 1433 AD.

Perang Paregreg dalam Sastra Jawa
Peristiwa Paregreg tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa dan dikisahkan turun temurun. Pada zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, kisah Paregreg dimunculkan kembali dalam Serat Kanda, Serat Damarwulan, dan Serat Blambangan.

Dikisahkan dalam Serat Kanda, terjadi perang antara Ratu Kencanawungu penguasa Majapahit di barat melawan Menak Jingga penguasa Blambangan di timur. Menak Jingga akhirnya mati di tangan Damarwulan utusan yang dikirim Ratu Kencanawungu. Setelah itu, Damarwulan menikah dengan Kencanawungu dan menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Mertawijaya. Dari perkawinan tersebut kemudian lahir Brawijaya yang menjadi raja terakhir Majapahit.